Kementerian Pariwisata Dorong Pelatihan Keselamatan Wisata Bahari Berorientasi Outcome
Jimbaran, Bali, Kementerian Pariwisata terus mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada jumlah peserta pelatihan, tetapi juga menghasilkan perubahan nyata dan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat serta industri pariwisata. Komitmen tersebut disampaikan oleh Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas Masyarakat, Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata, Ika Kusuma Permana Sari,saat melakukan monitoring dan evaluasi (monev) pada kegiatan Pelatihan Peningkatan Keselamatan Wisata Bahari Tahun 2026 di Bali. Ika Kusuma Permana Sari hadir secara langsung pada hari kedua dan ketiga pelaksanaan kegiatan untuk memastikan proses pelatihan berjalan dengan baik sekaligus melihat secara langsung antusiasme dan partisipasi para peserta. Dalam kunjungannya, Ika menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Bali atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia juga mendorong agar program peningkatan kapasitas masyarakat terus dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia pariwisata. Menurutnya, keberhasilan sebuah pelatihan tidak semata-mata diukur dari output, seperti jumlah peserta yang mengikuti kegiatan atau jumlah sertifikat yang diberikan. Lebih dari itu, keberhasilan harus dilihat dari outcome, yaitu perubahan dan manfaat nyata yang dihasilkan setelah peserta kembali menjalankan aktivitasnya di lapangan. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan diharapkan dapat diterapkan secara nyata oleh para pengelola daya tarik wisata (DTW), pengelola desa wisata, pemandu wisata, maupun pelaku usaha wisata bahari. Penerapan kompetensi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai risiko, memperkuat budaya keselamatan, serta menciptakan aktivitas wisata yang lebih aman dan nyaman bagi wisatawan. “Yang terpenting dari sebuah pelatihan bukan hanya berapa orang yang telah mengikuti kegiatan, tetapi bagaimana pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan serta memberikan perubahan nyata di lingkungan kerja dan masyarakat,” menjadi pesan utama yang disampaikan Ika dalam kegiatan monitoring dan evaluasi tersebut. Pelatihan Peningkatan Keselamatan Wisata Bahari Tahun 2026 dilaksanakan selama tiga hari, mulai 31 Agustus hingga 2 September 2026, bertempat di Jimbaran Bay Beach Resort & Spa, Kabupaten Badung, Bali. Kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari berbagai unsur pelaku pariwisata. Para peserta mendapatkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan terkait pentingnya penerapan aspek keselamatan dalam penyelenggaraan aktivitas wisata, khususnya wisata bahari.
Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas Masyarakat, Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata, yang dilaksanakan melalui skema Tugas Pembantuan pada Dinas Pariwisata Provinsi Bali. Melalui pelatihan ini, Pemerintah Provinsi Bali terus berupaya memperkuat kapasitas pelaku pariwisata dalam menghadapi berbagai potensi risiko yang dapat terjadi dalam aktivitas wisata bahari. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian penting dalam mewujudkan pariwisata Bali yang berkualitas, aman, berkelanjutan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Keselamatan wisatawan kini tidak lagi dapat dipandang sebagai aspek pendukung semata. Dalam perkembangan industri pariwisata global, aspek keselamatan menjadi salah satu unsur penting yang menentukan kualitas pengalaman wisatawan dan tingkat kepercayaan terhadap sebuah destinasi. Dengan meningkatnya kompetensi para pelaku pariwisata, diharapkan tercipta sistem pelayanan wisata yang semakin profesional, responsif terhadap risiko, serta mampu memberikan rasa aman dan nyaman kepada wisatawan. Orientasi terhadap outcome juga diharapkan mampu menghadirkan dampak yang lebih luas, mulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan standar pelayanan dan keselamatan, hingga meningkatnya daya saing destinasi pariwisata. Pada akhirnya, peningkatan kapasitas masyarakat tidak hanya berhenti di ruang pelatihan. Pengetahuan yang diperoleh harus menjadi praktik nyata dan memberikan manfaat bagi lingkungan kerja, masyarakat, serta keberlanjutan sektor pariwisata. Melalui kegiatan ini, Bali kembali menegaskan komitmennya untuk membangun pariwisata yang tidak hanya menarik dan berdaya saing, tetapi juga aman, berkualitas, dan berkelanjutan. Sebab, keselamatan bukan sekadar standar pelayanan, melainkan fondasi penting dalam menghadirkan pengalaman wisata yang berkualitas dan bermartabat bagi setiap wisatawan yang datang ke Bali.
